Efek Blog

Minggu, 31 Mei 2015

PLATYHELMINTHES



1.    Planaria sp
Klasifikasi    :
Kingdom      : Animalia
Phylum         : Platyhelminthes
Class             : Turbellaria
Ordo             : Tricladida
Sub ordo       : Paludicola
Family          : Tricladidae
Genus           : Planaria
Species         : Planaria sp.
(Sumber        : Verma. 2002)
               Tubuh pipih dorsoventral, bagian kepala yang berbentuk seperti segitiga dengan tonjolan seperti dua keping yang terletak di sisi lateral yang disebut aurikel, sedangkan bagian ekornya berbentuk meruncing. Bagian tubuh sebelah dorsal warnanya lebih gelap daripada tubuh sebelah ventral. Di tengah-tengah bagian dorsal kepalanya terdapat sepasang bintik mata (berfungsi untuk membedakan gelap dan terang) yang sensitif terhadap rangsangan sinar, namun sebenarnya Planaria tidak dapat melihat. Di dekat pertengahan tubuh bagian ventral agak ke arah ekor ditemukan lubang mulut. Lubang mulut ini berhubungan dengan kerongkongan yang dindingnya dilengkapi dengan otot daging sirkular maupun longitudinal. Kerongkongan dapat di tarik dan dijulurkan. Dalam posisi menjulur kerongkongan tersebut mirip belalai. Disepanjang pinggiran tubuh bagia ventral terdapat “zona adesif’’ yang menghasilkan lendir liat berfungsi untuk melekatkan diri pada permukaan. Di permukaan ventral di tutupi oleh rambut-rambut getar halus berfungsi untuk bergerak. Tepat di bawah bagian kepala terdapat bagian tubuh menyempit yang menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian leher.
               Planaria sp dapat ditemukan di sungai, mata air, kolam dan danau di bawah batu-batuan atau di tempat-tempat yang agak dingin. Biasanya cacing ini menempel di batuan atau di daun yang tergenang air. Cacing ini bergerak dengan cara merayap, namun apabila di air planaria ini bergerak dengan cara meluncur. Tepat dibawah bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan yang menyerupai telinga. Jarak tempuhya dalam 1cm yaitu 7,50 s.
               Makanan cacing ini terdiri dari hewan-hewan kecil lainnya yang masih hidup maupun yang telah mati. Cara makan Planaria bergerak meluncur selama mengejar mangsanya kemudian ujung anteriornya dibelokkan, apabila tersentuh oleh mangsa Planaria sp akan melingkarinya dengan lendir excert glandulae mucosae yang terdapat di sepanjang sisi badan dan kapsula. Setelah itu mangsa tadi dimasukkan ke dalam mulutnya. Kemudian Planaria sp diam dengan setengah badan mangsa berada pada bagian anterior dan setengahnya lagi badannya diliputi dibagian posteriornya. Selanjutnya faring akan ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa dengan segera dan ditarik masuk ke dalam mulut bersama faring.
               Sistem pencernaannya terdiri dua saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala dan brcabang keseluruh tubuh dan berakhir di sel api. Sel api berlubang dan mengandung silia yang berungsi untuk mendrong air dan sisa metabolisme masuk kedalam saluran pencernaan. Pada permukaan dorsal saluran induk mempunyai luang ekskresi. Pengeluaran sisa metabolisme berlangsung selain melalui saluran ekskresi juga melalui lapisan gastrodermis. Makanan masuk melalui mulut, dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui cabang-cabang usus. Cabang usus tersebut ada 3, satu menuju anterior dan dua menuju posterior. Makanan yang tidak dicerna akan dikeluarkan kembali melalui mulutnya karena Planaria sp tidak mempunyai anus. Planaria bersifat hermafrodit, dan di dalam tubuhnya alat kelamin jantan maupun alat kelamin betina. Sistem syarafnya terdiri dari ganglion serebral, terletak dibagian kepala dan berfungsi sebagai otak. Alat indranya berupa bintik mata dan indra aurikel yang keduanya terletak dibagian kepala. Daya regenerasinya sangat tinggi, bila hewan ini di potong-potong maka bagian yang hilang akan tumbuh kembali dan menjadi individu utuh seperti semula.


2.         Fasciola hepatica
  Klasifikasi
  Kingdom              : Animalia
  Sub kingdom        : Invertebrata
  Phylum                 : Platyhelminthes
  Classis                  : Trematoda
  Order                    : Digenia
  Familia                 : Digeniadae
  Genus                   : Fasciola
  Species                 : Fasciola hepatica
  (Sumber: Hegner & Engemen : 1968)
            Tubuh Fasciola hepatica bentuknya pipih (seperti daun) susunan tubuhnya adalah triploblastik. Terdiri dari lapisan ektoderm (tipis yang mengandung sisik kiti dan sel-sel tunggal kelenjar dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari cairan hospes). Lapisan endoderm melapisi saluran pencernaan. Lapisan mesoderm merupakan jaringan yang membentuk otot, alat ekskresi, dan saluran reproduksi. Disamping itu terdapat jaringan parenkim yang mengisi rongga antara dinding tubuh dengan saluran pencernaan. Disekitar muluut terdapat alat hisap berfungsi sebagai alat penempel pada hospes. Batil isap ini terdapat disebelah anterior dan ventral. Alat hisap dilengkapi dengan otot-otot yang tersusun atas tiga lapisan yaitu lapisan luar melingkar, tengah longitudinal, dan dalam diagonal.
            Hewan ini hidup parasit dalam kantung empedu pada biri-biri, sapi, babi, dan hewan pemakan rumput lainnya, dan kadang ditemukan juga pada manusia. Antara mulut dan alat hisap ventral terdapat lubang genital sebagai jalan untuk mengeluarkan telur. Lubang ekskresi terletak agak dekat dengan akhir posterior. Sistem ekskresinya sama dengan planaria, hanya saja saluran utama yang mempunyai lubang pembungan keluar. Sistem syaraf sama dengan planaria, bersifat hermarodit. Dari setiap individu dapat menghasilkan ratusan ribu telur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar