1. Planaria sp
Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Turbellaria
Ordo : Tricladida
Sub
ordo : Paludicola
Family : Tricladidae
Genus : Planaria
Species : Planaria
sp.
(Sumber : Verma. 2002)
Tubuh pipih dorsoventral, bagian kepala yang berbentuk
seperti segitiga dengan tonjolan seperti dua keping yang
terletak di sisi lateral yang disebut aurikel, sedangkan bagian ekornya berbentuk meruncing. Bagian
tubuh sebelah dorsal warnanya lebih gelap daripada tubuh sebelah ventral.
Di tengah-tengah bagian dorsal kepalanya terdapat sepasang bintik mata (berfungsi untuk
membedakan gelap dan terang)
yang sensitif terhadap rangsangan sinar, namun sebenarnya Planaria tidak dapat melihat.
Di dekat pertengahan tubuh
bagian ventral agak ke arah ekor ditemukan lubang mulut. Lubang mulut ini
berhubungan dengan kerongkongan yang dindingnya dilengkapi dengan otot daging
sirkular maupun longitudinal. Kerongkongan dapat di tarik dan
dijulurkan. Dalam posisi menjulur kerongkongan tersebut mirip belalai.
Disepanjang pinggiran tubuh bagia ventral terdapat “zona adesif’’ yang menghasilkan lendir liat berfungsi untuk
melekatkan diri pada permukaan. Di permukaan ventral di tutupi oleh
rambut-rambut getar halus berfungsi untuk bergerak. Tepat di bawah bagian kepala terdapat bagian tubuh
menyempit yang menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian
leher.
Planaria sp dapat ditemukan di sungai, mata air, kolam dan danau di bawah
batu-batuan atau di tempat-tempat yang agak dingin. Biasanya cacing ini
menempel di batuan atau di daun yang tergenang air. Cacing ini bergerak dengan
cara merayap, namun apabila di air planaria ini bergerak dengan cara meluncur. Tepat
dibawah bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan
yang menyerupai telinga. Jarak tempuhya dalam 1cm yaitu 7,50 s.
Makanan cacing ini terdiri dari hewan-hewan kecil
lainnya yang masih hidup maupun yang telah mati. Cara makan Planaria
bergerak meluncur selama mengejar mangsanya kemudian ujung anteriornya
dibelokkan, apabila tersentuh oleh mangsa Planaria
sp akan melingkarinya dengan
lendir excert glandulae mucosae yang terdapat di sepanjang sisi badan dan
kapsula. Setelah itu mangsa tadi dimasukkan ke dalam mulutnya. Kemudian Planaria sp diam dengan setengah badan
mangsa berada pada bagian anterior dan setengahnya lagi badannya diliputi dibagian
posteriornya. Selanjutnya faring akan ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa
dengan segera dan ditarik masuk ke dalam mulut bersama faring.
Sistem pencernaannya
terdiri dua saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala dan brcabang
keseluruh tubuh dan berakhir di sel api. Sel api berlubang dan mengandung silia
yang berungsi untuk mendrong air dan sisa metabolisme masuk kedalam saluran
pencernaan. Pada permukaan dorsal saluran induk mempunyai luang ekskresi.
Pengeluaran sisa metabolisme berlangsung selain melalui saluran ekskresi juga
melalui lapisan gastrodermis. Makanan masuk melalui mulut, dan diedarkan ke
seluruh tubuh melalui cabang-cabang usus. Cabang usus tersebut ada 3, satu menuju
anterior dan dua menuju posterior. Makanan yang tidak dicerna akan dikeluarkan
kembali melalui mulutnya karena Planaria sp tidak mempunyai anus. Planaria bersifat hermafrodit, dan di dalam tubuhnya alat
kelamin jantan maupun alat kelamin betina. Sistem syarafnya
terdiri dari ganglion serebral, terletak dibagian kepala dan berfungsi sebagai
otak. Alat indranya berupa bintik mata dan indra aurikel yang keduanya terletak
dibagian kepala. Daya regenerasinya sangat tinggi, bila hewan ini di potong-potong
maka bagian yang hilang akan tumbuh kembali dan menjadi individu utuh seperti
semula.
2.
Fasciola hepatica
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Sub kingdom :
Invertebrata
Phylum : Platyhelminthes
Classis :
Trematoda
Order :
Digenia
Familia :
Digeniadae
Genus :
Fasciola
Species : Fasciola hepatica
(Sumber: Hegner & Engemen : 1968)
Tubuh
Fasciola hepatica bentuknya pipih (seperti daun) susunan
tubuhnya adalah
triploblastik. Terdiri dari lapisan ektoderm (tipis yang mengandung sisik kiti
dan sel-sel tunggal kelenjar
dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari
cairan hospes). Lapisan
endoderm melapisi saluran
pencernaan. Lapisan mesoderm
merupakan jaringan yang membentuk otot, alat ekskresi, dan saluran reproduksi.
Disamping itu terdapat jaringan parenkim yang mengisi rongga antara dinding
tubuh dengan saluran pencernaan. Disekitar muluut
terdapat alat hisap berfungsi sebagai alat penempel pada hospes. Batil isap ini
terdapat disebelah anterior dan ventral. Alat hisap dilengkapi dengan otot-otot
yang tersusun atas tiga lapisan yaitu lapisan luar melingkar, tengah
longitudinal, dan dalam diagonal.
Hewan ini hidup parasit dalam kantung empedu pada
biri-biri, sapi, babi, dan hewan pemakan rumput lainnya, dan kadang ditemukan
juga pada manusia. Antara mulut
dan alat hisap ventral terdapat lubang genital sebagai jalan untuk mengeluarkan
telur. Lubang ekskresi terletak agak dekat dengan akhir posterior. Sistem
ekskresinya sama dengan planaria, hanya saja saluran utama yang mempunyai
lubang pembungan keluar. Sistem syaraf sama dengan planaria, bersifat
hermarodit. Dari setiap individu dapat menghasilkan ratusan ribu telur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar